November 07, 2015

Tentang Menghargai Karya

Maret tanggal tiga tahun 2015 ada sebuah email yang membuat saya girang. Alhamdulillah ada penerbit yang berkenan meluncurkan salah satu karya saya dalam bentuk buku. Rasa bahagia itu nggak akan bisa saya tutupi. Terlepas nanti karya ini akan mendapat respon positif ataupun negatif, yang penting saya sih bahagia aja dulu hehe.

Lalu dimulailah pergolakan hati itu...

Akhir-akhir ini pikiran saya sedang rajin diganggu dengan pertanyaan manakah yang benar antara “Pekarya bisa hidup dari karyanya sendiri” ataukah “Pekarya mencari sumber penghasilan lain lalu menginvestasikannya untuk menelurkan karya sesuai passion-nya”.

Untuk nama-nama besar yang melegenda seperti Om Iwan Fals, Mas Erwin Gutawa, Mbak Dee Lestari mungkin jadi contoh terdepan pada pilihan pertama “Pekarya yang bisa (dan benar-benar) hidup dari karyanya sendiri”. Mereka masih berbaur dengan pasar namun tidak pernah melunturkan idealisme dalam berkarya. Artinya bukan mereka yang didikte oleh pasar namun justru karya mereka yang memengaruhi pasar.

Namun yang banyak terjadi justru pilihan yang kedua. Seseorang yang punya penghasilan tetap dari matapencaharian yang “normal” lalu mengalokasikan sebagian uangnya untuk mencukupi kehausannya dalam berkarya. Dalam golongan ini pun masih terbagi lagi menjadi dua: (a) mereka yang berharap karyanya laku keras lalu mendapat tambahan penghasilan dari situ dan (b) mereka yang nothing to lose, balik modal aja udah alhamdulillah yang penting bisa berkarya karena memang ingin berkarya. Nah, kini saya merasa sedang ada di persimpangan antara 2a dan 2b. Karena untuk jadi pilihan yang pertama itu jelas butuh waktu, butuh proses, dan tentu butuh kerja keras yang tidak instan.

Saya jadi ingat ketika SMA, sempat menjalani kegiatan “ngamen” bareng teman-teman band saya dari satu tempat ke tempat lain. Entah acara ulang tahun, kawinan, festival, main di cafe (non regular), apa pun evennya tergantung datangnya job. Mendatangkan keuntungan memang, minimal menambah uang saku dan cukup untuk nutupin bayar buku-buku sekolah yang kian melangit kala itu. Tetapi orang tua saya hanya mendukung kegiatan itu sebagai media penyalur hobi dan sampingan penambah uang saku saja lalu menegaskan agar itu tidak jadi pekerjaan inti kelak ketika saya lulus SMA. Lalu beginilah saya hingga lulus kuliah dan akhirnya bisa bekerja dan mendapat penghasilan tetap, seperti yang orang tua dan keluarga saya bayangkan.

Namanya passion tak akan pernah bisa kita kurung lama-lama. Semasa kuliah pun saya masih bandel curi-curi waktu main band untuk nutupin uang kost dan makan bulanan. Sampai sekarang pun masih eksis sebagai penyanyi kamar mandi yang menelurkan postingan demi postingan gak jelas di akun soundcloud. Kadang saya nulis juga untuk dikirim ke media massa, walau akhirnya cuman ada satu media massa nasional yang mau memuat opini saya hehehe. Namun passion tetaplah passion. Ibarat kata memaksa jerapah makan buah yang digeletakkan di tanah daripada membiarkannya meraih ranting-ranting tinggi. Bisa sih, tapi susah.

Lalu muncullah pemikiran bombastis (setidaknya menurut saya sendiri.. iya. bener. kasian). Saya ingin berkarya dengan serius, namun masih takut kehilangan penghasilan utama yang sudah pasti didapat setiap bulan dan bingung mencari modal untuk memulai menelurkan karya.

Jadilah saya ambil jalan tengahnya, membiayai karya dengan uang tabungan sendiri lalu mengerjakannya di sela-sela waktu senggang pekerjaan utama saya. Konsekuensinya memang harus siap memberikan energi dan waktu yang lebih dan mengurangi waktu istirahat serta menahan keinginan duniawi bersenang-senang dengan gaji.

That’s a matter of choice, right?

Setelah melalui perjalanan yang lumayan menguras energi, pikiran, hingga finansial, draft naskah pun selesai di sekitar akhir 2013. Setelah itu kami gencar menawarkan naskah tersebut ke beberapa penerbit mayor. Kenapa nggak minor aja duluan yang pasti terbit? Ya namanya juga nekad, hehehe. Kami ingin tembus ke penerbit mayor agar ada jaminan karya ini bisa tersebarluas melalui jaringan distribusi dan daya tawar yang dimiliki penerbit mayor. Walau sempat nyaris putus asa dan mau menerbitkan secara mandiri juga sih hehehe. Akhirnya penantian nyaris dua tahun itu dijawab dengan tegas oleh Penerbit DIVA Press di tahun 2015 ini.


Lalu digulirkanlah promo kecil-kecilan melalui media yang termurah: media sosial. Dengan keterbatasan geografis, finansial, dan energi, bersama rekan penulis saya (karena kebetulan ini novel duet) kami lancarkan aksi mengenalkan karya melalui twitter, facebook, path, hingga akun instagram @dalamdoaku (menyusul kemudian melalui blog pribadi).

Reaksi yang saya tuai pun membuat saya sangat bersyukur. Benar-benar di luar ekspektasi. Teman-teman yang mengenal saya mulai rajin berkomentar entah itu ucapan selamat, mendukung dengan serius, lempar joke-joke ringan, atau bahkan nyinyir. Yang jelas mulai muncul pembicaraan tentang ini.

Diantara seluruh komentar, saya tercengang dengan minoritas teman saya yang dengan serius bertanya...

Kapan nih launching?"

"Bisa pre-order nggak?

dan yang bikin besar kepala adalah...

Kalau udah terbit aku mau beli, ntar tolong tanda tangan ya”.

*langsung pingsan*


Sungguh saya merasakan perbedaan yang sangat dahsyat di sana.

Mereka mau beli??

Buku perdana dari penulis yang nggak terkenal?

Buku pertama dari penulis kemarin sore yang masih amatir, bau kencur, dan bau air laut?
Buku pertama dari penulis kurus yang hidup jauh dari metropolitan dan merindukan kekasihnya?
(oke yang terakhir jadi curhat)

I’m a rookie writer with a rookie book!
Aris Pradana
Betapa perasaan dihargai ini merupakan sebuah kenikmatan tiada tara. Rasanya seperti makan pecel paling enak sedunia lalu mati karena keenakan trus di surga disuguhin pecel yang lebih enak lalu mati lagi karena saking enaknya. Begitu seterusnya.


Jujur saya juga seneng sih banyak yang comment “Aris minta dong bukunya”, “kirim dong”, “gratis dong, kan sama temen sendiri”. Karena artinya mereka bersemangat, penasaran, pengen baca, atau minimal mengapresiasi keberanian saya berkarya.

Akan tetapi untuk segelintir teman yang dengan serius bilang “aku mau beli dong, kabari yaaa kalo udah terbit” ini meninggalkan kesan yang sangat membekas dalam hati dan sanubari saya.

Saya jadi teringat kata-kata Mike Shinoda, dalam personal blognya, ketika seorang fans Linkin Park bertanya tentang musik gratis dan bajakan. Begini jawaban Shinoda....

When I was about 16, I decided to care about who I was buying music from. I realized that buying an album or concert ticket is more important to me than a lot of people. Here's how: every dollar you spend on a band (whether it be on their music, concert tickets, or merchandise) is a statement; it says that you want the artist to continue to make music.

In buying something, you are essentially helping fund their future endeavors. This doesn't matter whether it is your friend's band down the street or Linkin Park. So now the question is, "If I think of every dollar I spend is a dollar of support...are there dollars I should be relocating elsewhere? Do I believe that Nike deserves my support? Do the ringtone companies, the fast food companies, the movie studios?" Food for thought.

Regardless how you feel about the topics above, the bottom line is this: if any of you are stealing music from a band that you love, but you're buying something from a company that you don't care about, I would very politely suggest that you might have some re-prioritizing to do.

*thanks to Pandji Pragiwaksono yang menceritakan ini dalam e-book nya "Menghargai Gratisan"

Saya membaca kalimat Shinoda ini berulang-ulang (karena english saya pas-pasan hehehe) lalu dengan sepenuh hati menyepakati. Ini berarti sewaktu saya, dengan uang saku anak SMA (dan kuliahan) yang pas-pasan kala itu, rela beli kaset dan CD original (bahkan bayar tiket konsernya) Padi, Maliq & D’essentials, Tompi, dll artinya saya telah menyatakan sikap untuk (tidak hanya) menyukai (namun) juga mendukung agar mereka mengeluarkan karya-karya lagi.

Rupanya kalimat Shinoda ini sekarang semakin mengena di kepala dan hati saya dengan sangat dalam. Teman-teman saya yang bersemangat untuk membeli buku saya kelak, sesungguhnya mereka sedang membuat statement kepada saya. Bukan lagi tentang rupiah. Teman-teman saya tersebut (dan kelak seluruh pembeli dan pembaca buku saya) membuat saya yakin juga percaya bahwa itu merupakan pernyataan sikap mereka agar saya dapat terus berkarya lagi dan lagi.

Maka melalui posting kali ini saya mengucapkan rasa syukur dan terima kasih yang mendalam kepada mereka yang telah antusias sedemikian besarnya. Hal ini membuat saya merasa semakin bertanggungjawab atas karya-karya tersebut agar, minimal, tidak membuat Anda sekalian kecewa, sebaliknya agar Anda setidaknya mendapatkan hal-hal positif dari perkenalan kita melalui media karya saya tersebut. Percayalah, meski dengan segala kemampuan dan energi yang telah saya kerahkan, karya tersebut memiliki beberapa kekurangan.

Dan seperti sewajarnya alam semesta, kita semua butuh proses. Saya pun, dengan penuh kesadaran, sedang dalam koridor berproses agar dapat mengeluarkan yang jauh jauh jauh lebih baik lagi ke depannya. Untuk itu, mohon kiranya masukan yang membangun dari Anda sekalian.

Akhir kata, terima kasih banyak atas segala bentuk dukungan dan semoga selalu ada hal positif yang bisa kita ambil dari perkenalan kita.....

No comments:

Post a Comment