June 10, 2013

Raminten

Tentang kenangan masa sekolah yang selalu mengundang gelak riang hingga senyum haru. Gondomanan hingga Tugu. Diantara gemerlap lampu jalan yang berpendaran, di sela-sela angin malam yang bertiup pelan, kau hamburkan berjuta ceria yang kau sebut tak pernah hadir sebelumnya. Sesekali kunikmati sorot mata bahagia yang kau sebut telah lama tak terpancar. Empat tahun nyatanya tak mampu menghapus nyaman yang pernah ada untuk dituangkan lagi pada pertemuan malam ini. Berbagai cerita berserakan.


Di bahuku, kau rebahkan segala keletihanmu menghadapinya. Menyumpahi sikap angkuh dan kesewenang-wenangannya. Sebuah kisah yang seperti tak pernah berujung, sejak pertama kali kulihat air matamu tumpah di hadapanku karenanya tujuh tahun lalu. Seporsi gudeg spesial tak bersisa menjadi saksinya. Saksi tersayatnya hatiku menahan amarah atas lukamu.


Selalu tak dapat kuterjemahkan bagaimana benturan demi benturan menjalar di sekujur hatiku setiap kisah ini berulang padamu. Aku tak pernah terjun dalam kabar baikmu bersamanya. Tetapi malaikat pasti tahu dimana aku berada saat cerita-cerita sedihmu mengalir lurus padaku. Aku bisa saja menjadi layaknya Jaksa Penuntut untuk mendesak keadilan porsi hatimu untukku, tetapi tak lagi ada gunanya bagiku. Cukup kau tahu kemana harus bersandar saat butuh penopang. Di balik pengharapan yang selalu kukubur dalam-dalam, aku turut memanjatkan pada-Nya agar kebahagiaan ada padamu. Selalu.


No comments:

Post a Comment