June 11, 2013

Salsa

Letih menggerakkan dompet tiga pemuda untuk menukar beberapa isinya dengan air minum. Dasar mahasiswa sok pembela kebenaran, memilih penjualpun perlu kriteria ketat menyerupai seleksi beasiswa. "Mana yang paling memelas" diantara deretan pedagang, menjadi parameter utama. Tertangkaplah gadis belia itu di mata mereka.
 
Jilbab putih menutupi pipi cabinya. Sesekali ia sibuk memasukkan rambut yang menyembul dari sudut wajahnya. Binar matanya kalahkan gemerlap cahaya yang mengepung Monas. Diam. Tersenyum. Ada keramahan dalam tutur katanya.

"Ibuk lagi ambil termos, bang", jawabnya saat ketiganya mempertanyakan kesendiriannya.

Raut wajahnya siratkan cerita. Himpitan ekonomi terpampang samar di balik sosok mungilnya yang terhalang tumpukan botol mineral berbagai merk. Salsa, namanya, tampak ceria melayani pesanan beberapa gelas susu dan kopi.

Puas bertukar cerita, canda, dan berfoto ria, ia tampak tak ingin segera kehilangan momen bersama ketiganya. Terus saja mengajak bermain. Bagai sedang mengadu tentang kerelaannya memangkas waktu, juga cintanya pada dunia bermain, demi pertahankan kepulan asap di dapur rumahnya.

Setengah jam berselang, seorang ibu membantunya. Penuh semangat, Salsa sodorkan semua uang, yang mereka bayarkan, pada ibunya. Sembari bercerita detail perihal apa yang telah mereka beli, tak satu rupiahpun, bahkan satu katapun, ia sembunyikan dari ibunya. Meski konon telah lenyap, ternyata pendidikan kejujuran masih berkuasa di Negeri ini.

1 comment:

  1. Gag asing sama tulisan ini pak, serupa cerita bapak pas lagi KP di Jakarta 2 tahun lalu, :D

    ReplyDelete