October 28, 2015

Agar Tuhan Tersenyum

Sambil menatap langit-langit sebuah kamar di cabin deck Tanker sebelum tidur, seperti biasa pikiran saya melayang-layang kemanapun tanpa arah. Pekerjaan menjelang tidur yang paling susah adalah mengekang agar pikiran nggak kemana-mana. Begitu random persis gerakan bajaj dalam usaha menembus padatnya jalanan.

Hingga sampai pada perenungan “Mengapa saya harus bekerja sedemikian beratnya?"
dan "Mengapa harus di tempat yang sejauh ini?”.

Kemudian angan-angan bak tertiup angin terbang jauh hingga ke masa lalu...

Saya lahir dan dibesarkan dari keluarga sederhana di sebuah kota kecil di pantai selatan Jawa Timur. Tulungagung namanya. Ibu saya terpaksa meninggalkan pekerjaannya di sebuah BUMN marmer di kota kami ketika saya lahir. Saya tipikal bayi yang tak bisa jauh-jauh dari bau badan ibunya. Bunda bergeser satu meter saja, ketika saya sadar, saya pasti menangis. Keras dan mengganggu. Ayah dengan sangat halus meminta Bunda resign meski tahu bahwa dirinya hanyalah PNS bergolongan rendah (karena hanya lulusan SMA).

Usia lima tahun saya masuk ke Taman Kanak-kanak negeri. Bahkan yang terbaik di kota saya di jaman itu. Pertimbangan Ayah dan Bunda sederhana, agar saya dari kecil mendapat yang terbaik untuk pendidikan sehingga punya dasar yang kuat, lalu untuk pendidikan selanjutnya bisa dapat dikompromikan melihat perkembangan dan prestasi saya. Selain itu, karena ini TK negeri di bawah Pemkab Tulungagung (instansi tempat Ayah bekerja), beliau berkeyakinan bahwa akan banyak putra-putri dari teman kantor Ayah yang ada di sana, jadi mudah memantau sejauh mana kualitas pendidikan di sana dengan sharing bersama teman-teman kantor Ayah.

Saya menikmati diantar dan dijemput Ayah dengan sepeda ontel tuanya. Sepeda ontel yang hanya punya satu dudukan, tidak ada boncengan. Saya berdiri di depan dengan satu tangan Ayah merangkul perut saya menjaga agar tidak jatuh. Selama perjalanan berangkat dan pulang sekolah dengan cerewetnya saya bertanya ini itu, segala hal yang menarik perhatian saya di jalan. Sebanyak apa pun pertanyaan saya, sebanyak itu pulalah Ayah meladeni saya.

Tibalah memasuki kelas saya melihat banyak anak yang menangis saat ditinggalkan orang tuanya (padahal hanya ditinggal keluar kelas), beberapa tampak tegar tetapi rajin berdiri menengok ke jendela memastikan orang tuanya masih menunggui di luar kelas, beberapa lagi malah bingung ngeliatin kelakuan anak-anak tersebut, dan saya ada di golongan terakhir tersebut hehehehe.

Maklum Ayah sudah berpesan, 
nanti Ayah nggak bisa nemenin kamu sekolah. Kita bagi tugas ya. Ayah kerja di kantor cari uang, kamu belajar yang baik di sekolah”.

Saya pun menyahut,
Trus tugas Bunda jagain adek ya, Yah?”. 

Ayah hanya terseyum mengangguk lalu mengangkat telapak tangan kanannya sebagai tanda mengajak tos seperti yang biasa kami lakukan dalam prosesi perpisahan. Saya pun dengan riang menyambut ajakan tos Ayah dengan menepukkan telapak tangan kanan dengan keras sembari teriak,
Tos! Dadaaa Yah!”.

Tiba waktunya istirahat, seperti biasa, anak-anak TK mulai mengeluarkan bekal makanan kecil dari tas, tepak, atau apa pun yang mereka bawa dari rumah. Beberapa orang tua ikut masuk membantu anaknya membuka bekal tersebut. Dan lagi-lagi saya melakukan semuanya sendirian. Belakangan saya sadari inilah cara orang tua saya mendidik mandiri sejak dini.

Di momen istirahat ini pula saya mulai memperhatikan sedikit demi sedikit perbedaan strata. Beberapa teman tampak membawa jajanan bermerk yang saya tahu relatif mahal. Chiki, Cheetos, Jet-zet, Chitato yang saat itu berharga Rp150,00 kalau tidak salah, lalu Silverqueen yang harganya tidak pernah bisa membuat Ayah saya menuruti jika saya meminta di toko, atau apa pun merk-merk terkenal di TV.

Kadang saya dalam hati iseng ngitungin berapa harga seluruh bekal yang teman saya bawa ini, rata-rata sampai Rp500-Rp1000an. Bayangkan, untuk anak TK di tahun segitu itu sudah mewah sekali rasanya. Sementara saya hanya dibawakan bekal roti bluder yang saya beli di warung dekat rumah dengan harga Rp50,00. Ada pun jajanan semacam Chiki namanya “Gulai Ayam”, bungkusnya warna kuning, harganya Rp50,00 atau sepertiga lebih murah daripada Chiki “asli”. Jajanan paling mahal saya saat itu adalah “Anak Emas” yang harganya pun masih di bawah Chiki, yaitu Rp100,00. Tapi sayang Bunda selalu bilang kalau saya tak boleh memakan Anak Emas terlalu sering karena khawatir bisa bikin batuk. Jadilah menu bekal TK saya yang paling sering adalah roti bluder dipadu Gulai Ayam atau “Krip-krip”.
**kalau Anda baca bagian ini pake senyum-senyum atau ketawa, berarti kita seumuran brooo hehehehe

Ujian mental selanjutnya adalah saat jam pulang sekolah menanti orang tua masing-masing. Karena termasuk dalam golongan minoritas anak yang orang tuanya tidak menunggui di sekolah, saya bisa memperhatikan teman-teman saya pulang bersama orang tua dan kerabat masing-masing. Tak jarang saya pulang paling akhir karena Ayah masih ada tanggungan pekerjaan yang tak bisa beliau tinggal. Seberapa pun seringnya teman kantor Ayah (yang anaknya juga teman saya sekolah) menawarkan kepada saya agar sekalian diantar olehnya (dalam bahasa kerennya “nawari tebengan”), sebanyak itu pulalah saya menolak karena Ayah telah janji akan menjemput dan seperti yang selalu Ayah lakukan, Ayah tak pernah ingkari janji itu meskipun saya kadang harus berkorban menunggu lama. Kelak setelah bekerja seperti sekarang, saya hanya bisa tersenyum betapa kebosanan, kelelahan, dan kejengkelan saya menunggu Ayah datang menjemput itu tidak ada apa-apanya dibandingkan kelelahan Ayah mempercepat tumpukan pekerjaannya agar sesegera mungkin minta break lalu ijin ke atasan Ayah agar sesegera mungkin juga bisa menjemput saya.
**hati saya mulai gerimis pas nulis bagian ini :( 

Saat-saat menunggu Ayah membuat saya terbelalak lagi dengan teman-teman saya yang dijemput orang tuanya menggunakan sepeda motor dan mobil. Mobil, waktu itu, hanya dimiliki oleh orang-orang besar di kota saya.

(Yang saya ingat betul hanya 2 anak yang dijemput mobil. Yang satu adalah anak salah satu pejabat di kota saya, satu lagi adalah anak seorang dokter terkemuka di kota saya. Teman saya yang anak seorang dokter ini jadi teman saya yang paling lama karena dari TK hingga SMA kami selalu dalam satu sekolah yang sama. Bahkan kuliah pun ada di kota yang sama meski beda almamater. Hebatnya hingga sekarang kami tak pernah sekali pun membahas masalah ekonomi hehehe).

Sedangkan yang lain dijemput menggunakan motor atau layanan jasa antar-jemput. Hanya ada 3 atau 5 anak yang dijemput menggunakan sepeda dan saya salah satunya. Suatu saat saya pernah tanyakan ini ke Ayah. Dengan bijak Ayah memberi jawaban yang sangat menempel di kepala.

“Kenapa nanya begitu? Kamu capek ya berdiri di sepeda terus kayak gini?”
tanya Ayah dengan nada sangat lembut. Jauh dari kesan keras meski wajahnya sering membuat teman saya agak takut mendekat.

“Iya Yah, kalau naik motor kan aku bisa duduk di belakang. Nggak berdiri di depan kayak gini. Kakiku capek tadi main lari-larian sama Christian, Arif, Yohan, Ajik, Angga”.
**wohooo saya masih ingat betul nama teman-teman TK saya hehehe

Selang lima hari atau sepekan dari percakapan itu, Ayah menjemput dengan sepeda baru. Sepeda Jengki kami menyebutnya. Merknya "Phoenix" warna hitam dengan kursi boncengan di belakangnya. Tidak seperti biasa, saya lari bergegas dari pagar sekolah ketika melihat Ayah membawa sepeda baru.

“Loh? Sepeda Ayah kemana? Ini minjem siapa?”

“Sepedanya Ayah balikin ke rumah Kakung, itu kan punya Kakung, ini sepeda baru kita. Ayo sini cobain boncengan belakangnya”.

“Yeeee..asyiiik!”

Kemudian saya lupa tentang keirian saya kepada teman saya yang dijemput motor ataupun mobil. Bagi saya ini sudah mewah. Sambil menggowes perlahan, Ayah melanjutkan...

“Sementara pake ini dulu ya. Yang penting kamu bisa duduk. Nanti kalau kamu sudah SD Ayah usahakan beli motor”.

“Nggak usah Yah. Nanti pas SD aku nabung beli sepeda juga. Jadi Ayah nggak usah antar-jemput lagi. Kita naik sepeda bareng”.

Lalu Ayah hanya tertawa sembari mempercepat kayuhan sepedanya....

Lamunan saya terbuyarkan oleh air mata yang mulai jatuh tanpa saya sadari. Akhirnya saya menemukan jawaban pertanyaan di awal paragraf tulisan ini. Sebuah jawaban yang akan menjadi penyala bagi setiap langkah saya kelak ketika mulai merasa butuh supply energi agar kembali terbarukan.

Every father is a superhero of his children. Every husband is an idol of his wife.
And I just want to be the best husband and the greatest father for mine.

Saya ingin membalas segala kebaikan yang Ayah dan Bunda telah berikan, saya tak ingin mengingat hal buruk yang (mungkin) secara sengaja atau pun tidak telah mereka beri. Lalu kemudian  pada akhirnya ingin menjadi seperti mereka: menjadi alasan perjuangan, kerinduan, dan doa tulus bagi anak-anaknya.

Saya ingin Ayah tidak lagi berpikir bagaimana memutar otak dan tenaga mencari rejeki untuk keluarga, saya ingin Ayah dan Bunda menikmati masa tuanya dengan bahagia dan lebih fokus kepada pendekatan diri kepada Allah. Jauh lebih dari itu, saya ingin anak dan istri saya kelak tidak merasakan apa yang saya rasakan di masa kecil: perang batin mengalahkan minder dan terbatasi pilihan kenyamanannya. Bukan, saya bukan ingin memanjakan mereka dengan segala kemudahan dan kemewahan kelak, namun saya akan mengenalkan segala bentuk situasi yang bisa kami pilih sendiri nantinya. Berbeda dengan saya dulu yang pilihannya dibatasi oleh kondisi ekonomi orang tua saya.

Di luar itu saya merasa bahwa dengan meningkatnya kemampuan ekonomi kita, artinya meningkat pula tanggung jawab kita untuk membantu sesama. Di dalam penghasilan kita pun, menurut agama apa pun, ada hak untuk orang lain yang membutuhkan. Paman saya menjadi contoh yang akan selalu saya kenang. Penghasilan dan karir beliau selalu merangkak naik, namun selama itu pula beliau tak berhenti membantu orang lain dengan menyekolahkan sanak saudara yang membutuhkan sampai lulus. Dimulai dari adiknya. Setelah lulus, ganti adiknya satu lagi sampai lulus. Setelah keempat adiknya yang dibiayai telah bisa berdiri sendiri, beliau bantu keponakan-keponakan yang kalau dihitung jumlah orang yang beliau bantu nggak akan habis dalam satu postingan ini. Namun anehnya Paman saya tak pernah terganggu ekonominya. Masih bisa menyekolahkan anak kandungnya, masih bisa menyempatkan liburan keluarga, masih bisa sekolah hingga S-3 bahkan meraih gelar Guru Besar, masih bisa hidup dengan sangat bahagia bersama keluarga beliau. Seakan-akan rejeki mengalir deras entah darimana datangnya.

Untuk itulah mungkin jawaban mengapa sekarang saya dan mungkin juga Anda, para pembaca, harus kerja keras sedemikian rupa. Mungkin jawaban kita akan sangat beragam. Namun saya rasa tidak ada yang menyangkal bahwa motivasi terbesar datang dari 4 penjuru: orang tua Anda, orang yang Anda cintai, masa lalu yang ingin diubah, dan masa depan yang ingin diwujudkan.

Jadi, mari niatkan pekerjaan seberat apa pun yang kita jalani sekarang ini untuk membalas jasa orang yang kita cintai dan mencintai kita, niatkan untuk beribadah, atau minimal kita niatkan agar Tuhan tersenyum...

4 comments:

  1. Masya Allah.. adek bener-bener nangis bacanya mas, semoga Allah selalu melindungi mas disana ya, mas baik-baik ya.. Usaha nggak akan pernah mengingkari.. kita berjuang bareng-bareng ya mas, Insya Allah masa depan itu milik kita :)

    ReplyDelete
  2. "...motivasi terbesar datang dari 4 penjuru: orang tua Anda, orang yang Anda cintai, masa lalu yang ingin diubah, dan masa depan yang ingin diwujudkan" Aku suka bagian ini :)

    ReplyDelete
  3. Mas Aris, salam buat Pak Piterson dan Minion ya, wis rasah sedih digowo seneng wae ...

    ReplyDelete
  4. salut untuk aris..keren banget tulisan nya sampe buat gw mewek.. btw happy wedding untuk aris n dizka smoga sllu berkah n bermanfaat untuk smuanya..

    ReplyDelete