May 15, 2014

You Hired for Attitude, Not (only) Skills!

Seringkali saat menjalani masa perkuliahan, kita menghadapi kebimbangan tentang mana yang jauh lebih penting? IPK cumlaude, piagam segudang, track record keorganisasian yang cemerlang, ataukah setumpuk karya ilmiah?

Pembahasan akan semakin seru jika diperlebar melalui pertanyaan atau pilihan: "ilmu teknis, kemampuan praktis, ataukah leadership?"

Dalam tulisan ini saya mencoba membagi sedikit dari yang saya tahu dan alami.

April 18, 2014

Bukan Steven Gerrard, Tapi Brendan Rodgers

Kalimat dalam judul posting kali ini mungkin biasa jika penulisnya adalah orang yang tidak suka kepada Liverpool (LFC) ataupun Steven Gerrard. Tetapi saya bisa pastikan kepada Anda sekalian bahwa saya adalah fans berat Steven Gerrard dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Tak jarang kecintaan saya kepada Liverpool tertutupi oleh kekaguman saya kepada Pangeran Merseyside yang punya nama asli Steven George Gerrard ini.

Bahkan, suami dari Alex Currant ini adalah magnet terbesar bagi saya untuk menolehkan kecintaan saya dari MU era Eric Cantona, Dwight Yorke, dan David Beckham kepada Liverpool era Patrick Berger, Steve McManaman, Robie Fowler. Sekalipun saat itu Steven Gerrard kalah mentereng daripada Michael Owen dan masih didapuk sebagai pelapis Dietmar Hamman.

September 25, 2013

Aku Bermimpi

Aku bermimpi...

Ada kamu membangunkan tidurku. Tanpa melepas pelukan, kau tepukkan telapak tanganmu ke pipiku seraya menyebut namaku. Halus. Lembut. Namun membuatku segera kembali ke alam nyata setelah usai menemuimu dalam bunga tidurku.

June 14, 2013

Meira

“Kamu bisa kok dapatkan yang jauh lebih darinya. Kamu itu cantik. Sangat susah untuk ditolak oleh pria manapun."

Kalimat ini masih melayang-layang di kepalaku. Meski tak pernah kugubris, nyatanya tetap mengganggu saja.

June 11, 2013

Salsa

Letih menggerakkan dompet tiga pemuda untuk menukar beberapa isinya dengan air minum. Dasar mahasiswa sok pembela kebenaran, memilih penjualpun perlu kriteria ketat menyerupai seleksi beasiswa. "Mana yang paling memelas" diantara deretan pedagang, menjadi parameter utama. Tertangkaplah gadis belia itu di mata mereka.